Random!

Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia


Chapter 2 – Aku ingin terus menyentuhmu

“Heeeey, kita pergi main bertiga yuk!”

Aku dapat pesan ini di LINE dari Sudou setelah aku baru saja mengganti sepatu ke sepatu sekolah . Bar notifikasi menampilkan sebuah kalimat singkat dengan ikon hijau.

Orang yang memasangkan aplikasi ini di smartphone ku tidak lain dan tidak bukan ialah Itsuka. Sudou memasangnya di handphone nya sendiri sekitar kelas dua SMP dan terkesan dengan fungsi serba gunanya. Jadi dia asal mengambil handphone ku, memasangkan aplikasinya dan membuatkan akun untukku. Bersama dengan Sudou dan Hiroo Shuuji yang terdaftar sebagai teman.

Aku tidak begitu menggunakannya, jadi aku mencopot pemasangannya. Namun, ketika Sudou menyadarinya ia pun marah, mengambil handphone ku dan memasangkannya kembali. Setelah itu aku mencobanya lagi beberapa kali, tapi hal yang sama terjadi, jadi aku menyerah karena merepotkannya hal itu. Sejak itu pula aku telah menerima pesan dari waktu ke waktu.

Sekali-kali, mau aku jawab atau tidak itu tergantung suasana hatiku. Dan kali ini,

“Terserah.”

Aku menaruh handphone ke saku blazer ku dan pergi menuju ruang kelas.

Seminggu berlalu semenjak Hiiragi meminta pertolonganku.

Sejak saat itu, aku berusaha yang terbaik untuk tetap berada di dekatnya selama istirahat untuk membantunya selama dalam percakapan.

Misalnya:

“Hiiragi-chan, main game mobile gak? Mau main bareng kita?”

“… Eto, game? Umm…”

“Enggak, Hiiragi enggak main game. Bahkan dia sepertinya tidak bisa menggunakan smartphone nya dengan baik.”

“… O-oh, kau sungguh suka ikut campur yaa, Hosono…”

“Ah, tapi seperti yang dikatakan Hosono-kun… Aku tidak bermain game…”

“Wow! Cepuk pensilnya Hiiragi-san imut banget! Kau membuatnya sendiri?”

“Aku, umm… Yahh…”

“Tampak sudah cukup tua, bukannya cepuk itu dari seseorang di keluarganya?”

“Astaga, kau mengejutkanku! Jangan tiba-tiba berbicara dari belakangku…”

“T-tapi dia benar… Aku menerimanya dari ibuku…”

Sejujurnya, sangat diragukan hal ini ada hasil apapun. Aku hanya sedikit membantunya dalam percakapan apapun, jadi di satu sisi mungkin sama saja jika tidak ada aku disini.

Juga, aku tidak tahan dengan kenyataan bahwa suasananya menjadi aneh setiap kali aku ikut campur dalam pembicaraan. Kalau dipikir-pikir, aku menghindari orang-orang. Jadi tentu saja ini tidak berjalan baik bagiku berusaha menolong seseorang ketika menyangkut komunikasi.

Terlebih, entah kenapa Hiiragi nya sendiri pun tidak begitu proaktif. Jika kau meninggalkannya sendiri dia akan langsung membaca buku dan mengasingkan dirinya ke dalam dunianya sendiri. Aku pun sama, jadi aku tidak bisa memprotesnya tentang itu, dan aku senang ketika ia berterima kasih padaku, tapi tidakkah seharusnya ia menunjukkan sedikit motivasi lebih banyak lagi?

Kesampingkan hal itu,

“… Tidak membiarkanku istirahat, huh.”

Saat aku sedang berjalan menuju ruang kelas, handphone ku terus menerima notifikasi dari LINE di saku ku.

Kemungkinan besar, Sudou dan Shuuji sedang berbicara satu sama lain. Sudou, Shuuji dan aku di grup LINE yang sama, jadi ketika hanya mereka berdua yang sedang mengobrol, handphone ku juga ikutan bergetar.

“… Hah.”

Aku menghela nafas, kemudian melihat percakapan mereka hingga yang terbaru.

Shuuji: Yeah, terdengar bagus! Sudah lama jadi aku mau pergi jalan-jalan!

Itsuka: Iya kan? Aku mau karaoke-an. Udah lama ga kesitu

Itsuka: (Stiker anjing mencondongkan kepalanya dengan “Gimana?”)

Shuuji: Karaoke kayaknya rame. Aku juga mau ikut!

Itsuka: Dan Hosono? Karaoke mau ga?

Itsuka: Sebenarnya, pesannya belum dia baca

Itsuka: Orang itu, dia tidak ngecek handphone nya

Shuji: Enggak, pesan pertama bertulisan “Dibaca oleh 2”

Itsuka: Kau benar! Dia mengabaikan kita!

Itsuka: Heeey! Baca pesan yang kita kirim!

Itsuka: (Stiker anjing marah)

Shuuji: (Stiker Komik Pahlawan Amerika marah)

Itsuka: Ah, itunya berubah jadi dibaca

Itsuka: Kau lagi liat bukan? Hey, Hosono! Jawab!

Itsuka: Heeeey!

Shuuji: Heeeey!

Aku menyimpan kembali handphone ke dalam saku. Aku masih dapat notifikasi, tapi bentar lagi juga seharusnya berhenti. Jika aku menjawab mereka, kemungkinannya besar aku berakhir ikut ke karaoke bersama mereka.

Akhirnya sampai ke ruang kelasku, aku membuka pintu dan pergi menuju kursiku.

“Selamat pagi,” kata Hiiragi yang sampai duluan, mengangkat wajahnya dari buku yang sedang ia baca.

“Iya, pagi.”

Sejak hari itu, menyapa Hiiragi di pagi hari menjadi rutinitas sehari-hariku. Di SMP aku pergi ke sekolah tanpa mengatakan apapun, jadi bisa dibilang perubahan ini agak mengejutkan.

Berbicara soal perubahan, aku memutuskan untuk berbicara dengan Hiiragi mengenai kekhawatiranku.

“Jadi, kita harus apa?”

“Iya?”

“Tidak, yahh, kau meminta bantuanku, tapi… pada akhirnya, aku hanya membantumu selama percakapan, bukan?”

Terlebih, aku melakukannya agak buruk.

“Itu, benar…”

“Bukannya kita harus, kau tahu, melakukan sesuatu?”

“Hmm…” Hiiragi menyimpan bukunya ke atas meja dan mulai berpikir. “Tentu, kupikir kita harus melakukan sesuatu lebih banyak… Tapi melakukannya secara bertahap, itu sedikit menakutkan. Tiba-tiba pergi main dengan seseorang yang sepenuhnya berbeda itu tidak mungkin…”

“Yeah, pasti sulit…”

Aku mencoba membayangkan orang yang berbeda dengan Hiiragi, contohnya cewek gaul, pergi bermain dengannya, dan itu membuatku ingin tertawa.

Kalau sudah begitu, akankah dia memakai make-up yang menor dan melakukan selfie? Di satu sisi, aku ingin melihatnya.

“Jadi, kupikir kita seharusnya pelan-pelan saja, untuk terbiasa secara alami…” kata Hiiragi melihatku dengan tatapan memohon. “Maafkan aku yang banyak maunya…”

“… Tidak, tidak masalah.”

Sambil berpura-pura tetap tenang, anehnya aku merasa tersentuh melihat ekspresi memohonnya.

Sekali lagi, ini sungguh perkembangan yang sangat luar biasa.

Sudah seminggu, tapi aku masih merasa kalau ini adalah sebuah mimpi.

Aku menjadi kenalan dengan Tokiko, dan bisa berbicara dengannya setiap hari. Jika aku mengatakan itu pada diriku yang baru saja selesai membaca “Umur 14 Tahun” aku yakin dia tidak akan mempercayaiku. Bagaimanapun, aku masih berpikir kalau aku mungkin akan bangun di kasurku setelah mimpi panjang yang begitu lama.

Setelah aku bertemu Hiiragi, aku membaca lagi “Umur 14 tahun” berulang kali.

Merubah Tokiko, yang merupakan keberadaan hanya di kepalaku, dengan Hiiragi, keberadaan yang konkret, ada perbedaan yang besar menurutku. Pikiran dan perkataannya jauh terasa lebih nyata.

Daripada kemunculan Hiiragi membuat kenyataan terlihat lebih seperti mimpi, mungkin lebih seperti mimpi ini, dunia novel ini, menjadi lebih dekat ke kenyataan.

Kemudian seolah berusaha memecah belah pikiranku menjadi potongan kecil,

“Dia disini! Hosono!”

“Jadi kau beneran datang ke sekolah.”

Kedua orang yang seperti penjelmaan kenyataan pun muncul.

Sambil menghela nafas, aku melihat ke arah pintu masuk ruang kelas, dimana suara itu muncul.

“Serius, kenapa kau tidak menjawab di LINE?! Aku khawatir dan kirain kamu sakit!”

“Tapi aku pikir tidak begitu.”

Sudou Itsuka, wajah kecilnya yang mirip hewan dipenuhi dengan amarah, dan Hiroo Shuuji, tinggi dan tampan seperti aktor, datang padaku.

Di samping aku dapat melihat Hiiragi jadi kaku karena penampakan mereka.

“Hey, kau baca pesan di LINE, kan!?”

“… Iya, aku baca,” jawabku dengan enggan pada Sudou yang sedang berdiri di depanku.

“Kalau gitu jawab! Karena kita tidak di kelas yang sama lagi, kita tidak bisa ngobrol dengan mudah kayak sebelumnya!”

“Kau tidak perlu sejauh itu hanya untuk mengobrol, tahu? Kita bisa ngobrol sama orang di kelas kita masing-masing.”

“Ap-, kau tidak punya perasaan! Bukannya kita selalu bersama sejak SD!” kata Sudou yang lagi marah, tangannya di pinggul membusungkan dadanya.

Dia mencoba untuk mengintimidasi, tapi itu sama sekali tidak bekerja dengan tinggi 150 CM nya. Rambutnya yang diikat di kedua sisi kepalanya bergoyang naik turun selagi ia bicara, malah terlihat lebih lucu daripada yang lain.

Tapi yahh, jadi seperti itu sebenarnya ada bagusnya juga buat beberapa orang, dan kepribadiannya yang periang membuat ia agak populer.

“Tapi seriusan, cuma Hosono satu-satunya yang beda kelas,” kata Shuuji tersenyum masam sambil duduk di kursi kosong dibelakang Sudou. “Mimpi berada di kelas yang sama untuk sepuluh tahun berturut-turut pupus sudah.”

“Aku tidak pernah memimpikan itu…”

Selama kita berbicara, gadis-gadis di kelas semuanya melihat Shuuji.

Jika aku harus memberikan contoh untuk penampilannya, maka kurang lebih seperti ini “seorang aktor tampan dihujani tatapan penuh gairah oleh wanita yang baru saja memulai berakting setelah menjadi model”. Terlebih, dia punya kepribadian yang ramah dan tenang, kemampuan komunikasinya juga cukup tinggi. Jadi yah, cewek-cewek tidak bisa mengabaikannya.

“Jadi, gimana? Dapat teman?”

“Yahh… Aku tidak tahu kalau itu bisa disebut teman…” Jawabku sambil tidak sengaja melihat ke tempat duduk di depanku.

Aku tidak tahu jika aku bisa mengualifikasikannya sebagai “teman”, tapi di kelas ini Hiiragi lah yang paling banyak berbicara denganku.

Dan tentu saja, Shuuji menyadari pandanganku.

“Mungkinkah kau berteman dengan cewek ini? Sepertinya kau sedang berbicara dengannya sebelum kita datang.”

“Apa!? Sungguh!?” merubah ekspresinya dari amarah ke rasa ingin tahu, Sudou membungkuk ke arah Hiiragi. “Senang bertemu denganmu! Aku Sudou Itsuka dari kelas 2! Aku sudah jadi teman Hosono sejak SD!”

“Dan aku Hiroo Shuuji. Sama sepertinya, aku sudah berteman dengannya sejak SD.”

“Ah, be-begitu… Aku Hiiragi Tokiko,” Hiiragi mundur. “Senang bertemu denganmu…”

Bahunya menjadi kaku, dan dia terlihat seperti ingin melarikan diri kapanpun dia mau.

Entah dia menyadarinya atau tidak, Sudou terus berbicara sambil tersenyum.

“Hosono bukan tipe orang yang suka bergaul, tapi dia bukan orang yang jahat. Aku harap kau bisa akrab dengannya.”

“I-iya… aku tahu dia orang yang baik.”

“Eeh, Hosono beneran membuat teman. Itu bagus. Aku khawatir kau akan jadi penyendiri,” kata Shuuji.

Itu bukan urusanmu. Atau begitulah kupikir, tapi tidak mengatakannya.

Namun, orang-orang ini sungguh sesuatu. Dalam artian baik, dan dalam artian buruk. Dan dalam kasus ini, itu yang terakhir.

Berbicara seperti itu dengan perempuan yang baru saja kau temui bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sikap masa bodoh ini merupakan hak istimewa yang diberikan hanya pada mereka yang diberkati dengan karakter tertentu. Tokiko mengucapkan hal yang sama di “Umur 14 tahun”.

“Ah, aku tahu!”

Mendadak, Sudou membuat ekspresi seolah dia menemukan jawaban di kuis.

Lalu ia bahkan lebih membungkuk lagi pada Hiiragi dan,

“Hiiragi-san, mau ikut ke karaoke bareng kita pulang sekolah?”

“Apa!?”

Orang yang menaikkan suara terkejutnya seperti itu, adalah aku.

“Hey, Sudou… Apa yang sedang coba kau lakukan…”

Mengundang seseorang yang baru saja kau temui, terlebih lagi ke karaoke, apa yang dia pikirkan?

Dilihat dari manapun, Hiiragi tampaknya bukan tipe orang yang bisa bernyanyi. Tadipun dia sepenuhnya mundur dan menutup-nutupi wajahnya, tidak mungkin dia akan menerima.

“Tidak apa. Kita akhirnya jadi anak SMA, aku ingin bermain dengan banyak orang! Shuuji, kau juga ingin mengajak Hiiragi-san, kan?”

“Kau benar. Kita selalu bermain bertiga. Pasti menyenangankan ada anggota baru.”

“Gini ya, kalian seharusnya… Hiiragi, abaikan saja mereka.”

Percuma mengatakan sesuatu pada mereka, jadi aku menyerah di tengah jalan dan melanjutkan bicara pada Hiiragi.

“Mereka ini tipe orang yang mudah mendekati orang lain, jadi kau tidak perlu menerimanya dan pergi ke karaoke.”

Melihatnya, Hiiragi menunduk tampak seperti sedang memikirkan sesuatu dengan keras. Mungkin itu memang mengganggunya.

Dia sudah sangat kebingungan hanya dengan berbicara pada teman sekelas kita. Jadi yah, dia mungkin tidak bisa tetap tenang karena diajak begitu mendadak.

“Pokoknya, menyerah sajalah,” kataku berbalik pada Sudou sekali lagi. “Aku masih mempertimbangkan akan main. Tapi kalian seharusnya tidak melibatkan Hiiragi──”

“Aku ikut.”

Aku meragukan telingaku ketika aku mendengar suaranya.

“Aku juga… aku mau ke karaoke.”

Melihatnya, Hiiragi membuat ekspresi teguh sambil melihat Sudou dan Shuuji.

“Oooh, bagus, Hiiragi-san!”

“Baiklah, kita berempat pulang sekolah.”

“Tidak, tunggu sebentar!”

Mengabaikan mereka berdua, aku sekali lagi berbalik pada Hiiragi.

“Kau yakin? Ini karaoke tahu? Ini bukan hanya pergi main biasa.”

“Aku tahu…”

“Memang benar kalau aku pikir kau harus lebih proaktif sebelumnya, tapi…”

Hiiragi yang itu… Tokiko dari “Umur 14 Tahun” yang itu akan pergi ke karaoke, aku tidak bisa membayangkannya.

Di novel, Tokiko memang membicarakan lagu yang dia sukai. Disitu tertulis kalau dia suka musik bergaya barat, dan lagu-lagu subkultur yang dinyayikan oleh penyanyi wanita, jadi kurasa dia mungkin diam-diam sering nyanyi sendiri di kamarnya.

Tapi meskipun begitu, nyanyi di karaoke didepan Sudou dan Shuuji…

Berdasarkan “Umur 14 Tahun”, aku sungguh berpikir dia bukan tipe orang yang melakukan itu.

“Tapi jika aku melewatkan kesempatan ini, aku mungkin tidak akan punya kesempatan yang lain… Dan juga, mereka berdua sepertinya orang yang baik.”

Aku dapat merasakan tekadnya yang kuat di dalam suaranya.

“Itu sebabnya, aku juga ingin pergi…”

Jika sudah seperti itu, dia tidak akan merubah keputusannya. Kebulatan hatinya bukanlah sesuatu yang bisa kau putar dengan mudah. Aku juga terpesona oleh sikap keras kepalanya di “Umur 14 Tahun”.

… Dan itu berarti aku tidak bisa kabur lagi.

Aku tidak bisa membiarkan Hiiragi sendirian bersama dengan Sudou dan Shuuji. Ketika dia meminta bantuanku, itu sudah diputuskan aku pasti ikut dengan mereka.

“… Baiklah,” ucapku setelah menghela nafas dalam dan mengangguk dengan enggan. “Aku juga ikut ke karaoke…”

“Harganya 1430 yen per orang, sudah termasuk bar pribadi. Ruangan kalian ada di lantai ketiga, jauh di ujung sisi kanan saat kalian turun dari lift. Barnya ada di sebelah kiri ruangan kalian. Silahkan nikmati waktu kalian,” kata resepsionis pada kami di karaoke di kota sebelah.

Setelah mendengar arahannya, kami pergi ke lift yang sempit, menuju ruangan kami.

“Apa ini pertama kalinya bagimu, Tokki?” kata Sudou ke hiiragi, dengan nuansa yang aneh di dalam perkataannya, sambil diterangi lampu neon yang terlalu terang. Dia bahkan mulai menggunakan nama panggilan sebelum kita menyadarinya.

“I-iya… ini pertama kalinya.”

“Kapan terakhir kali kau kesini Hosono? Setahun lalu?”

“…Tidah, lebih seperti tiga tahun.”

“Serius?… Tunggu, maksudmu kau tidak pergi karena aku memaksamu saat kita masuk SMP?”

“… Maksudku, bukan berarti aku ingin pergi.”

“Sampai segitunya keinginanmu memutuskan diri sendiri dari dunia luar!?”

“Kau terlalu berlebihan hanya karena tidak pergi ke karaoke…”

“… U-ummm, Hosono-kun,” Hiiragi memanggilku dengan nada lemah. “Hmm, aku tidak begitu terbiasa dengan hal semacam ini, jadi… Tolong ajari aku bagaimana caranya.”

Hiiragi melihatku dengan ekspresi seperti seorang murid yang akan lulus ujian.

Melihat itu, aku jadi cemas lagi.

Apa ini sungguh tidak apa-apa? Kita agak cuma iseng, tapi bisakah Hiiragi mampu menahan ketidaknyamanannya selama dua jam?

Bahkan aku, yang mengenal mereka, merasa sedikit depresi. Dalam kasus Hiiragi, dia akan bernyanyi di ruangan tertutup selama dua jam bersama orang yang baru saja ia temui. Mungkin dia menyesali keberanian palsunya karena kita hampir tiba.

“… Iya, serahkan padaku. Aku pernah kesini sekali dan tahu cara kerjanya.”

Di ruangan untuk lima orang ini, aku diam-diam menguatkan tekadku.

Satu-satunya yang dapat membantu Hiiragi disini adalah aku. Kalau begitu, aku harus mendukungnya.

Lift yang sudah tua ini membuat suara aneh ketika naik ke atas, seolah-olah terhubung dengan kecemasanku.

“Jadi, pertama, ini remote kontrol.”

Setelah memasuki ruangan kami, aku mulai menjelaskan tentang remote kontrol karaoke.

Dia tidak pergi ke arkade game dan hal semacam itu, jadi dia lemah dengan mesin.

“Kau bisa menyentuh dan menulis menggunakan pena ini, ini untuk mencari lagu, dan tombol ini untuk mencari penyanyi. Lalu saat kau sudah memutuskan lagu, kau tekan tombol ‘Tambah’, dan beres.”

“Be-begitu… Apa itu ‘kunci’ dan ‘tempo’?”

“Ah, kunci itu untuk orang yang punya nada rendah atau tinggi, untuk merubah interval musik suatu lagu. Tempo untuk merubah kecepatan lagu. Tapi kau seharusnya biarkan saja peraturannya ke default untuk pertama kali.”

“Mengerti… Aku akan mencobanya.”

Membuat wajah sulit, Hiiragi memulai lomba saling tatap dengan remote kontrol.

“Baaaiiikkklaaaahhh, waktunya mulai!”

Melihat aku selesai menjelaskan, Sudou mengambil mic dengan semangat.

“Mari menyanyikan isi hati kita! Waktunya singkat, jadi tambahkan lagu sebanyak mungkin! Hosono, Tokki, mulai sekarang yang datang duluan yang pertama dilayani!”

Tampaknya dia tidak berniat memudahkan ini untuk kita, pemula. Kepolosan yang terus terang ini adalah karakteristik orang populer. Tapi yahh, ini masih jauh lebih baik daripada memaksa kita bernyanyi sesuai urutan.

Ruangannya hanya cukup untuk empat, lima orang.

Kau bisa melihat jalanan dari jendela besar di utara.

Kulit sofanya terkelupas, dindingnya berwarna kuning, udaranya bau rokok, lukisan di pintunya dicopot. Sungguh, ada Hiiragi disini sangatlah tidak cocok.

Pertama, aku harus membuatnya tenang dulu.

Selagi aku meneguk minuman yang aku bawa tadi, lagu yang dipilih Sudou pun dimulai dengan volume suara yang sangat tinggi.

Setelah Sudou selesai menyanyikan lagu idol nya, Shuuji langsung menyambungnya dengan lagu rap.

Kurasa mereka sering datang ke karaoke karena mereka cukup terbiasa meramaikan suasana dan menyanyi. Hiiragi, yang sedang memegang remote dengan ketat sambil melihat mereka berbisik “Hebat…” dengan ekpresi campuran antara terkejut dan ketidaksabaran.

Dan patuh pada “Yang datang duluan yang pertama dilayani”, Sudou dan Shuuji langsung menambahkan lagu kedua untuk mereka sendiri. Di sisi lain, Hiiragi masih melihat remote kontrol, berpikir keras tentang sesuatu.

“… Kau tidak perlu memaksakan diri,” ucapku padanya dengan nada rendah.

“… A-aku tahu,” kata Hiiragi, mengangkat wajahnya. “Terima kasih, tapi aku ingin melakukan yang terbaik…”

“… Yahh, kurasa itu tidak masalah.”

Aku heran. Saat ini, dia tampak cukup keras kepala terhadap rekreasi karaoke ini. Mungkin dia punya tujuan. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi kurasa seharusnya aku tidak terlalu banyak ikut campur.

“… Kalau begitu.”

Aku mengambil remote kontrol dan mulai mencari lagu.

Kupikir akan butuh waktu bagi Hiiragi untuk mulai bernyanyi. Dia mungkin keras kepala akan sesuatu, tapi ini seharusnya membuat ia lebih mudah jika aku bernyanyi pertama. Itu akan menurunkan tekanan baginya.

Aku memikirkan seorang penyanyi dan terus mencari lagu.

Kemudian, baru selesai menyanyikan lagu baru dari kelompok techno-pop, Sudou membuat suara terkejut.

“Oh! Kau sudah siap bernyanyi, Tokki!”

Aku mengangkat wajahku dan apa yang muncul di layar menampilkan lagu:

──Menambahkan Lagu “Cappuccino”.

Berpikir itu tidak mungkin aku pun berbalik untuk melihat ke sebelahku, dan aku melihat Hiiragi mengarahkan remote kontrol sambil mengangguk.

“Iya… Aku melakukan yang terbaik dan memilih lagu.”

… Kau serius? Pikirku tiba-tiba.

Tapi apakah dia sungguh baik-baik saja? Wajahnya seperti prajurit yang akan melakukan seppuku.

Lagu Sudou berakhir, jadi dia memberi mic nya pada Hiiragi.

Hiiragi mengambilnya dengan gerakan kaku, lalu “Ah, ah,” mengecek mic nya. Dia terlihat sangat gelisah dengan ekspresinya yang tegang dan suara gemetar, aku pun hanya bisa merasa kasihan.

Aku tahu dia tidak akan baik-baik saja.

Jika dia akan berakhir seperti itu seharusnya aku menolaknya lebih tegas. Ini tidak seperti ada orang yang menyuruhnya untuk bernyanyi.

Tidak memperdulikan keadaan mental Hiiragi, lagu pun dimulai.

──Cappucino.

Karena judul itu muncul di novel yang pernah aku baca, itu tipe lagu dengan liriknya yang mulai dari awal.

Ketika karaoke-an, tipe lagu seperti itu mengharuskanmu untuk terbiasa dengan itu. Itu lagu yang sulit bagi pemula seperti Hiiragi.

Dan tentu saja, Hiiragi bingung dengan lagu yang ada di counter.

Kemudian beberapa detik seletah intro dimulai, Hiiragi sadar dan mulai bernyanyi.

Mood di ruangan ini pun jadi tegang.

Itu sangat, yahh, eksperimental.

Kasarnya, suaranya jelek.

Suara Hiiragi yang keluar dari speaker, kesampingkan fakta kalau dia itu pemula, sangatlah mengejutkan.

Interval nya tidak pernah tepat, suara dari nada rendah ke nada tinggi nya goyah. Iramanya fals, dia salah membaca lirik, dan secara bertahap itu membuatmu bertanya-tanya apa yang sedang ia lakukan.

Itu luar biasa. Aku tidak pernah melihat seseorang yang bernyanyi sejelek ini di karaoke.

Namun, apa ini?

Meskipun dia berusaha yang terbaik untuk bernyanyi. Wajahnya merah terang, matanya melesat kemana-mana dan dia memegang mic nya dengan kuat menggunakan kedua tangannya.

“… Imut banget,” kata Sudou di sebelahku. “Apaaan ini, Tokki, dia terlihat sangat imut…”

“Iya…”

Shuuji juga bingung melihat Hiiragi.

“Apa ini, aku hanya ingin menyorakinya, mendukungnya, perasaan apa ini…”

Aku pun merasakan yang sama. Saking buruknya dia kita tidak tahu harus bereaksi seperti apa, namun nyanyian Hiiragi memiliki pesona yang aneh.

Jenis pesona dimana kau ingin selalu mendengarkannya, atau merekam video dan menontonnya berulang-ulang.

Kau mungkin mendengar kalau bernyanyi itu bukan hanya tentang kemampuan, tapi tentang perasaan yang kau tuangkan. Namun, ini pertama kalinya aku sangat tertarik pada seseorang yang nyanyinya buruk dan bahkan tidak menuangkan perasaannya pada lagu tersebut.

“Ma-maafkan aku karena nyanyinya jelek…” kata Hiiragi, wajahnya memerah saat ia meletakkan mic nya setelah lagunya selesai. “Aku tidak terbiasa menyanyi… Atau lebih seperti, aku juga jelek di kelas musik…”

“Tidak, malahan, di satu sisi, itu bagus,” kata Sudou sungguh-sungguh, dengan gairah tertentu dalam suaranya.

Kemudian Shuuji melanjutkan dengan ekspresi serius:

“Aku ingin kau menyanyi selamanya, Hiiragi-san.”

“Sama disini.”

Tidak biasa bagiku, aku setuju dengan yang dikatakan Shuuji.

“Eh, i-itu memalukan…”

Seluruh wajahnya memerah, Hiiragi menenggelamkan dirinya ke sofa sambil malu-malu.

“Ngomong-ngomong, kita berhenti menyanyi, seseorang harus bernyanyi! Sebenarnya, kau masih belum nyanyi Hosono!” kata Sudou, mengambil remote kontrol.

Sepertinya semua orang termenung-menung mendengar nyanyian Hiiragi dan lupa menambah lagu baru.

“Aku tahu…”

Keluhku, lalu menambahkan lagu diantara daftar lagu-lagu yang kuingin nyanyikan.

Begitu intro dimulai. Aku mengambil mic dan mengeringkan tenggorokanku.

Waktunya bernyanyi.

Aku memang sedikit enggan datang kesini, tapi sebenarnya aku lumayan percaya diri dengan nyanyianku.

“Ah, kau juga ingin minum sesuatu, Hosono-kun?”

Di jalan balik dari toilet aku menemui Hiiragi yang sedang menuangkan teh hitam di bar.

“Aku nyanyi cukup banyak tadi, tenggorokanku jadi kering.”

“Iya, aku juga. Bisa tolong ambilkan aku kopi? Yang panas.”

“Tentu… Cangkir yang ini buat kopi panas,” kata Hiiragi, mengambil cangkir dari nampan, lalu mengisinya dengan kopi panas di bar.

Kami berdua melihat cairan gelap yang mendidih tertuang ke dalam cangkir.

“… Haaa…”

Tiba-tiba Hiiragi mengela nafas.

“… Apa? Kata aku juga, itu memang tidak nyaman?”

“Tidak, bukan itu,” kata Hiiragi sambil memberiku cangkir yang sudah terisi. Dia berkata sambil cemberut, “Ternyata kau nyanyi nya bagus, Hosono-kun… Aku merasa sedikit terkhianati. Aku pikir kita teman…”

“Ah, iya, maaf,” kataku mengambil cangkirnya sambil menggaruk-garuk kepalaku dengan malu. “Bernyanyi adalah salah satu kelebihanku… Tapi serius, nyanyianmu juga bagus. Aku tidak memujimu.”

“Sungguh…?”

Hiiragi mengambil sedotan di mulutnya dan meminum es teh nya sambil merajuk.

Kita bisa mendengar suara Shuuji dan tamborin Sudou dari sini. Mereka bisa meriah sampai ke level 120% bahkan tanpa kita. Meski aku iri dengan betapa riangnya hati mereka, itu juga merupakan bukti mereka adalah orang yang berbeda dunia denganku.

“Pokoknya, kau sungguh baik-baik saja?” Tanyaku pada hiiragi, masih cemas. “Memang bagus kau berusaha sekuat tenaga, tapi jika kau tidak bagus bernyanyi seharusnya kau berhenti saja.”

Satu jam berlalu semenjak kita mulai. Hiiragi bernyanyi tiga kali, dan setiap dia bernyanyi wajahnya memerah dengan suaranya yang sangat lemah sampai-sampai kau hampir tidak bisa mendengarnya. Iya, dia sungguh memaksakan diri. Dia berusaha untuk peka terhadap Sudou dan Shuuji. Aku merasa seperti itu.

“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Hiiragi. “Aku masih sedikit gugup tapi… Aku sungguh ingin mencobanya. Kalau aku sudah terbiasa, mungkin aku akan mulai menikmatinya.”

Nada suaranya terdengar sangat natural dan tidak terasa seperti kebohongan.

“Begitu, kalau begitu kurasa tidak masalah…”

Aku menghela nafas pendek dan meneguk kopi ku.

“Tapi, sekarang panas yaa…” kata Hiiragi mengipasi dirinya sendiri menggunakan tangannya.

Sebenarnya, dilihat-lihat, es tehnya dipenuhi dengan es balok.

“Ternyata kalau nyanyi pake banyak energi… Aku mulai berkeringat, jadi aku simpan blazer di ruangan…”

Aku baru sadar setelah dia mengatakannya. Saat ini Hiiragi hanya mengenakan blus dan rok nya.

“Iya… Orang bilang penyanyi profesional turun beberapa kilo ketika mereka tampil live.”

“Ehh, bisa jadi cara untuk diet…”

Kemudian Hiiragi mencubit bagian dada dari blus nya, menariknya dan mulai mengipasi bagian dalam bajunya.

Garis lekuk tubuhnya tertonjolkan, dan blus putihnya cukup transparan untuk memperlihatkan tali BH. Mataku terfokus pada bagian itu untuk sekejap, lalu aku merasa bersalah dan memalingkan pandanganku. Padahal aku tidak merasakan apapun jika aku melihat BH Sudou…

Dipikir-pikir, aku ingat sesuatu.

Di “Umur 14 Tahun” ada adegan dimana Tokiko membicarakan tentang pakaian dalamnya. Sesuatu seperti ia membeli pakaian dalam berpola bunga, tapi dia merasa pakaian dalam itu tidak cocok dengan tubuh dan kepribadiannya.

[OLI Fan Translation] Bokukano Korekara Chapter 2

Sekali lagi, aku mencuri pandang ke Hiiragi.

Mungkin sekarang dia sedang mengenakan pakaian dalam berpola bunga?

Mungkin dia sedang mengenakan celana dalam yang ia rasa itu tidak cocok dengannya.

“… Ada apa?”

“Ti-tidak, tidak ada!”

Aku memalingkan mataku dari Hiiragi yang sedang melihatku sambil bingung.

Aku ingin berhenti melihatnya seperti itu menggunakan informasi dari novel. Lagipula, adegan itu tidak ditulis dengan maksud untuk meningkatkan birahi.

Pada akhirnya kita memperpanjang waktu dua jam dan bernyanyi selama tiga jam.

Kita bernyanyi lagu balad, lagu anak-anak dan lagu anime, lalu Sudou menyanyikan Lagu Distrik Suginami sebagai penutup, dan ketika kita keluar kita benar-benar kelelahan.

Sejujurnya, ini tidak terlalu buruk.

Aku tidak bilang ini menyenangkan. Tapi, aku dapat kesempatan melihat Hiiragi bernyanyi, dan itu sempurna sebagai latihan untuk akrab dengan orang-orang.

“Aaah, aku banyak nyanyi! Sangat memuaskan! … Ah, ngomong-ngomong, aku lupa nanya!”

Kita ada di jalan pulang, menuju stasiun terdekat. Kemudian tiba-tiba, Sudou berseru seolah ia mengingat sesuatu.

“Bagaimana kalian bisa jadi teman, Hosono dan Tokki? Aku tidak bisa membayangkan orang seperti kalian bisa jadi teman secara alami.”

“… Aaah,” aku bimbang menanggapi pertanyaan tak terduga ini.

Seperti yang Sudou katakan, kita bukan tipe orang yang bisa berteman dengan orang lain secara alami. Jika tidak ada alasan kita bahkan tidak akan berbicara satu sama lain, ya tapi sebenarnya memang ada alasan luar biasa yang mendekatkan kita berdua.

Namun, aku tidak bisa membicarakan “alasan luar biasa” ini. Lagipula, Hiiragi yang jadi model di “Umur 14 Tahun” adalah rahasia.

“Yahh, kau tahu…”

Sambil memikirkan kebohongan yang bisa aku gunakan sebagai alasan yang cocok, aku melihat ke sekeliling.

Meskipun sekarang hari kerja, jalanan penuh dengan orang-orang, terutama para karyawan pulang dari pekerjaannya dan pasangan ingin makan sesuatu. Ada antrian panjang di depan restoran dan orang-orang melihat perabotan toko antik. Karyawan dari negeri asing yang bekerja di restoran Nepal sedang membagikan brosur di jalan. Biasanya aku akan merasa tidak nyaman dengan begitu banyak orang di sekitar, tapi karena alasan tertentu aku tidak memperdulikannya hari ini.

“Eto… Kita agak suka novel yang sama,” aku mulai menjelaskan pada Sudou dan Shuuji. “Dan yahh, novelnya agak unik… Jadi saat Hiiragi melihatku membacanya di kelas dia mulai berbicara padaku.”

“Oh, yahh, memang benar kau selalu baca sesuatu, Hosono,” kata Shuuji sambil tersenyum tampak seperti Bunda Maria. “Dan Hiiragi-san juga terlihat seperti seorang gadis literatur.”

“Iya… Aku suka buku.”

“Maka itu sempurna untukmu, Hosono. kau dapat teman pecinta buku.”

“Hmm, yahh, kau benar…”

Memang benar dekat dengan seseorang seperti Hiiragi merupakan semacam keberuntungan bagus yang jarang terjadi di kehidupan.

Tapi, daripada pecinta buku, ini lebih karena dia sebenarnya pemeran dari sebuah buku.

Tapi tentu saja, Shuuji harus menunjukkan pikiran tajamnya,

“Namun, itu mengejutkan. Kupikir kalian sudah saling kenal cukup lama. Cara kalian berinteraksi tidak terasa seperti yang baru saja bertemu beberapa hari lalu.”

“… Yahh, kita banyak bicara berkat minat kita di buku, jadi mungkin terlihat seperti itu,” aku berhasil menjawab dengan lancar. “Kita bertemu saat upacara pembukaan. Lagipula, kaulah yang paling tahu kalau aku tidak punya banyak teman, bukan? Jika aku tahu Hiiragi sejak sebelumnya, kau pasti menyadarinya.”

“Iya… Itu benar.”

Shuuji tersenyum pahit, seolah dia tidak setuju tapi juga tidak bisa tidak setuju.

Lalu sambil mengobrol, kita akhirnya sampai di stasiun terdekat dari rumah kita masing-masing, Stasiun Nishiogikubo.

Hiiragi kearah selatan, dan kita kearah utara, jadi ini titik perpisahan kita.

“Ah, ayo tukar kontak LINE!” usul Sudou mengeluarkan hp nya. “Mulai dari sekarang kita akan bermain dengan Tokki juga! Apa kau pakai LINE?”

“Tidak…”

“Kalau gitu boleh aku memasangkannya untukmu?”

“I-iya… aku senang jika kau melakukannya.”

Sudou mengambil hp Hiiragi dan dengan cepat memasang LINE. Dia membuat akun dan menambahkan kita ke daftar temannya. Aku pikir begitu ketika dia melakukannya pakai hp ku, tapi dia tampak cukup terbiasa. Mungkin dia melakukannya untuk temannya yang lain juga.

“… Terima kasih untuk hari ini. Itu menyenangkan,” kata Hiiragi sambil membungkuk pada kami setelah menerima hp nya kembali. “Tolong ajak aku lagi. Yahh, kalau begitu…”

“Ya, sampai jumpa!”

“Dadah!”

Setelah Sudou dan Shuuji, aku juga berkata “Sampai besok,” sambil melambaikan tanganku.

Kemudian Hiiragi berbalik dan pergi menuju lorong yang redup. Sosoknya menjadi semakin kecil, melebur dalam kegelapan, lalu menghilang setelah berbelok di sudut.

Saat itu.

Karena alasan tertentu, aku merasa seperti sesuatu telah menghilang.

Aku tidak tahu penyebabnya. Tapi, sesuatu terasa menghilang. Perasaan aneh, seakan sesuatu yang seharusnya ada disini tetapi tidak ada.

“… Dia gadis yang baik.”

“Aku ingin bermain lagi dengannya…”

Ucap Sudou dan Shuuji dengan jujur, lalu mereka mulai berjalan menuju rumahnya masing-masing.

Meski aku merasa agak terpaksa untuk mengikuti mereka, aku tetap mengejar mereka.

Setelah berjalan beberapa menit, hp ku bergetar di dalam saku blazerku tepat ketika kita sampai di distrik pembelanjaan.

“… Hmm?”

Aku mengeluarkan hp ku dan melihat aku menerima pesan di LINE.

Pengirimnya memiliki nama “Tokki”. Yakni, Hiiragi.

Tokki: Ini pesan pertamaku. Aku harap kau menerimanya

Tokki: Terima kasih untuk hari ini. Itu sangat menyenangkan. Mungkin butuh waktu bagiku untuk lebih terbuka pada mereka, tapi aku akan berusaha

Dia mengirimiku pesan dengan sopan untuk berterima kasih padaku.

Formalitasnya sungguh terasa seperti Tokiko. Aku pun langsung mulai mengetik balasannya.

Hosono: Aku menerimanya. Terima kasih juga. Yahh, jangan berlebihan saja lah.

Tepat setelah mengirim pesannya, hampir dalam sekejap pesannya ditandai baca.

Indikasi sederhana itu memberi keterangan bahwa Hiiragi, di suatu tempat di jalanan, membaca pesanku, terasa aneh dan nyata.

“… Ada apa, Hosono?” tanya Sudou, yang ada di depanku, dengan ekspresi penasaran ketika ia berbalik padaku. “Kau terlihat senang.”

“Apa? Sungguh?”

Aku sama sekali tidak menyadarinya. Padahal saat aku menyentuh pipiku, wajahku terasa sama seperti biasa.

“Iya, kau tampak seperti sedang dalam mood yang bagus.”

“… Ngarang.”

“Oh, sungguh~?”

Aku memasukkan hp ku ke dalam saku dan melihat aspal di bawah. Aku merasa geram dan tidak bisa mempertahankan ketenanganku ketika bersama mereka berdua.

Tapi, aku menyadarinya.

Perasaan bahwa ada sesuatu yang kurasa menghilang ketika melihat punggung Hiiragi menyusut sebelumnya, aku tahu itu.

──Aku mendambakan pengetahuan.

Pengetahuan adalah titik pertemuan yang memusat dan asal mula segala hal.

Karenanya, dengan memiliki pengetahuan, aku akan memonopoli apa yang aku sayangi.

(Umur 14 Tahun/Hiiragi Tokoro – Edisi Machida)

Bantu Share Minna

Tag

Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Streaming Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Download Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia360p 480p 720p.1080p, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia episode terbaru, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter 02 Bahasa Indonesia Batch, Anime Sub Indo, Full Episode Complete Mkv.360p 480p 720p,1080p, Streaming Anime Sub Indo, streaming anime indonesia, Batch Anime Subtitle Indonesia, Streaming dan Download Anime Subtitle Indonesia Episode Terbaru,animeindo,anoboy,anitoki,samehada,samehadaku.oplover,oploverz,acenime,acnime,achanime,ainimeindo,streaming,nonton,dowload,anime sub indo,indo anime.anitoki,wibusubs,awsubs,anobooyoy.anoboy.kazefuri,animeku,sahabatanime,nanime,zip batch,rar batch,terlengkap anime indonesia,indo lengkap anime,meownime,nimegami,akadesu,batchdesu,animelist,mal,meguminime,drivenime,lolinime,desunime,animedesu

Komentar