Random!

Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia


── Aku suka ruang kelas saat awan diluar mendung.

Tokiko mencurahkan isi hatinya melalui halaman dari buku yang sedang ku pegang.

── Dan ketika awan-awan saling berhimpitan yang membuat sinar matahari tidak bisa menembusnya, udara yang dipenuhi dengan aroma segar dari tanah lembab, dan suara gemuruh petir yang dapat terdengar di kejauhan, terasa jauh lebih baik.

Selama masa-masa itu, ruang kelas yang diterangi lampu pijar terasa seperti tempat perlindungan yang sepenuhnya terisolasi dari dunia luar.

Bahkan ruang kelas yang biasanya asing dan guru yang mengajar tanpa semangat sambil berdiri di meja guru terasa seperti kawan di atas bahtera yang sama, memberikan semacam perasaan yang nostalgik dan menenangkan.

Yeah.

Aku mengangkat wajahku dari buku dan tidak sengaja berbicara.

Aku mengerti. Terkadang, aku punya perasaan yang sama seperti Tokiko.

Aku mengambil buku ini karena iseng.

Di jalan pulang sehabis sekolah saat SMP, aku melihat sampul buku ini diantara buku-buku yang berjejeran di toko buku di depan stasiun, dan buku itu menggelitik minatku.

Ilustrasi seorang perempuan berdiri mengenakan baju sekolahnya dengan latar yang terang. Judulnya cukup membosankan: “Umur 14 Tahun”. Aku tidak ingat pernah melihat Hiiragi Tokoro, nama sang penulis, dimanapun sebelumnya.

Namun, desain yang sederhana, kecanggungannya yang termasuk kurangnya daya tarik, dan ekspresi lesu si gadis di sampul itu anehnya menarik perhatianku.

Aku pasti akan menyukai buku ini.

Aku dapat firasat yang lebih seperti sebuah mukjizat.

Keingintahuanku terangsang, aku mengambil bukunya dan mulai membaca di tempat.

Dan firasatku benar, tidak butuh waktu lama bagiku untuk terlarut dalam “Umur 14 Tahun”.

── Hanya bila aku kurang percaya diri, aku benar-benar mendoakan kebahagiaan semua orang. Baik itu orang yang aku kenal atau tidak, lelaki atau perempuan, orang Jepang atau bukan orang Jepang, semua orang yang hidup di planet ini, aku mendoakan kebahagiaan mereka semua.

── Aku tidak ingin menyebut siapapun. Jika kau memanggil seseorang yang punya hubungan netral denganmu dengan “teman,” jika kau memanggil itikad baik dengan “cinta”, maka menurut suasana hati, konvensi dan presedennya, kau akan berakhir menjadi sedikit tertarik terhadap jalur-jalur tersebut. Kita seharusnya menjadi teman. Seharusnya menjadi cinta. Walaupun itu bukan niat kita pada awalnya, kita berakhir bertindak sesuai mereka.

── Tampaknya seseorang sedang beritikad baik tapi secara istimewa padaku. Meskipun dipisahkan oleh jarak yang jauh, meskipun kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku ingin kau selalu memikirkanku di suatu tempat. Jika seseorang merasakan hal itu, maka tidak ada hal lain lagi yang aku inginkan.

Ketika aku menemukan bagian yang tumpang tindih denganku, ketika itu membuatku berpikir “begitu”, atau ketika aku membaca ekspresi yang tidak terduga, setiap kali hatiku berdebar dengan kuat.

Kemudian, beberapa menit kemudian di tempat aku membaca.

── Aku pikir rasa sakit di dadaku ini adalah raison d’être[1] milikku.

Begitu aku melihat kalimat ini, sekujur tubuhku merinding.

── “Kebahagiaan” itu berharga. Namun, sama seperti bagaimana kau merasakan suatu cerita yang hanya berusaha untuk membuatmu tidak terpuaskan, sama seperti bagaimana kau mendapatkan perasaan tidak nyaman terhadap peristiwa yang dibuat hanya untuk membuatmu menciptakan kenangan, aku tidak berpikir kehidupan dimana seseorang hanya mencari “kebahagiaan” itu indah.

Hal-hal itu berharga bagi mereka karena mereka lahir setelah menjalani hidup dengan cara yang setiap orang pikir itu benar.

Dan itu sebabnya, aku ingin hidup dengan indah.

Sekalipun aku berakhir membelakangi kebahagiaan, aku masih ingin hidup dengan indah, mendekap cita-cita, keras kepala dan rasa sakitku.

Aku pun sama.

Pikirku, seolah-olah tersambar petir.

“Seseorang” berpikir sepertiku di sisi lain di halaman ini.

Aku menutup bukunya, dan berlari kecil menuju kasir.

Aku tidak bisa hanya membaca buku ini sambil berdiri di toko.

Sofa di ruang tamu, atau kasurku, pokoknya, aku butuh tempat yang tenang dimana aku bisa membaca sambil konstatering setiap halaman.

Buku ini, “Umur 14 Tahun” akan mendukung keseharianku yang monoton.

Aku merasakan sensasi ini dengan jelas di tanganku.

── Ini adalah kisah dari keseharianku, dimana tidak ada hal istimewa yang terjadi.

(Umur 14 Tahun/Hiiragi Tokoro – Edisi Machida)

Bantu Share Minna

Tag

Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Streaming Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Download Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia360p 480p 720p.1080p, Anime Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia episode terbaru, Boku to Kanojo to Futari no Korekara Volume 01 – Chapter Prolog Bahasa Indonesia Batch, Anime Sub Indo, Full Episode Complete Mkv.360p 480p 720p,1080p, Streaming Anime Sub Indo, streaming anime indonesia, Batch Anime Subtitle Indonesia, Streaming dan Download Anime Subtitle Indonesia Episode Terbaru,animeindo,anoboy,anitoki,samehada,samehadaku.oplover,oploverz,acenime,acnime,achanime,ainimeindo,streaming,nonton,dowload,anime sub indo,indo anime.anitoki,wibusubs,awsubs,anobooyoy.anoboy.kazefuri,animeku,sahabatanime,nanime,zip batch,rar batch,terlengkap anime indonesia,indo lengkap anime,meownime,nimegami,akadesu,batchdesu,animelist,mal,meguminime,drivenime,lolinime,desunime,animedesu

Komentar